Perkuat Data Pangan


Bulog Gandeng BPS Perkuat Data Pangan

SEBARIN.INFO - Jakarta,  - Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) mengenai penyediaan, pemanfaatan, dan pengembangan data serta informasi statistik di bidang pangan.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan nota kesepahaman ini dilakukan karena selama ini data pangan dari pihaknya selalu menjadi masalah karena menggunakan data-data yang independensinya kurang dipercaya.

"Oleh karena itu, untuk proses perencanaan dan evaluasi Bulog membutuhkan dukungan dari BPS untuk data-data yang akurat dan independen," ujar Djarot  di sela penandatanganan MoU di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Selasa (20/3).

Menurut Djarot, tujuan pelaksanaan nota kesepahaman ini dilakukan agar kedua belah pihak dapat saling bertukar informasi yang saling mendukung dan dibutuhkan dalam menyusun perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi penugasan pemerintah.

"Kita ingin ada perencanaan dan monitoring yang baik. BPS siap mendukung dengan data yang mutakhir dan akurasi serta independensi yang lebih baik. Kita berharap MoU ini dapat mendukung kegiatan bisnis Bulog tanpa mengurangi independensi BPS," ujarnya.

Di dalam nota kesepahaman ini Bulog dan BPS membahas delapan poin, antara lain pengembangan sistem informasi statistik, dukungan fasilitas dan peralatan analisa mutu pangan, dan pemantauan bersama di lapangan terkait pasokan serta harga pangan.

Sementara itu ditempat yang sama, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan kerja sama ini untuk sementara masih berfokus pada komoditas beras sebagai pangan utama rakyat Indonesia.

"Untuk jagung kita akan mulai uji coba di tahun depan, sementara beras dulu. Kalau kedelai saya pikir produksi kita juga tidak begitu besar jadi mungkin nanti menyusul lah," kata Suhariyanto.

Dia menambahkan, kemungkinan tipe data yang dikumpulkan masih berupa realisasi pengamatan sebelumnya, belum berupa data proyeksi. Sementara untuk rilis data ke publik kemungkin per 6 bulan atau 1 tahun.

"Kita punya data beras di penggilingan, lalu stok beras di masyarakat, seperti di rumah tangga, industri, dll. Kita akan kerja sama bareng-bareng mengumpulkan dan saling tukar data, kan Bulog punya data stok beras di gudangnya," katanya.(InfoPublik)