Gelar Professor Emeritus Keuangan


Komisaris Utama Garuda Indonesia Dianugerahi Gelar Professor Emeritus Keuangan

SEBARIN.INFO - Jakarta,  – Komisaris Utama Garuda Indonesia Jusman Syafii Djamal kembali memperoleh penghargaan akademik tertinggi sebagai professor emeritus keuangan dari dunia pendidikan Tiongkok.

Jusman memperoleh gelar tersebut usai memberikan pidato tentang pentingnya masa depan Indonesia dan China untuk memperhatikan secara serius kebijakan pembangunan sektor maritim melalui inisiatif yang disebutnya sebagai Jalur Sutera Abad 21.

Penganugerahan gelar tersebut  berlangsung di aula Guangdong University of Finance, Guangzhou, Selasa (20/3) dan langsung disampaikan sendiri oleh Rektor Prof. Yong Heming disaksikan Direktur  Kerja Sama Internasional Prof. Liu Peifu, dan pimpinan universitas lainnya serta sekitar seratus mahasiswa kampus ternama di bidang keuangan tersebut.

Rektor Yon Heming mengatakan, pemberian gelar ini merupakan penghormatan kepada Jusman atas pemikirannya dalam membantu memperkenalkan konsep stabilisasi situasi krisis keuangan Indonesia dengan memakai pendekatan stabilisasi aerodinamika pesawat terbang.

"Sumbangan pemikirannya penting dalam mempelajari dinamika keuangan internasional dan lebih dari itu adalah terbangunnya relasi yang kuat bagi kedua negara, terutama di bidang pendidikan keuangan," kata Rektor yang memimpin kampus dengan 1200 staf pengajar dan 23.000 mahasiwa dalam dan luar negeri.

Saat krisis keuangan melanda Indonesia tahun 1997 - 1998, pemerintah memperkenalkan Teori Zig-Zag sebagai salah satu upaya untuk menstabilkan mata uang rupiah yang merosot hebat. Jusman yang menjabat sebagai Direktur Sistem Senjata dan Sistem Antariksa PT IPTN diminta Presiden BJ Habibie untuk ikut mencari solusi dari persoalan moneter itu.

Dengan latar belakang insinyur penerbangan, maka Jusman menyarankan pendekatan model matematika matrik koefisien pengaruh aeroelastic terhadap struktur pesawat akibat turbulensi hingga menggunakan pendekatan instability dan maneuverability pada pesawat tempur F-16, mengingat pesawat tempur memang dirancang untuk kondisi tidak stabil.

Sebelumnya mantan menteri perhubungan itu juga pernah menerima gelar professor kehormatan dari Universitas Sains dan Teknologi Zhejiang. Gelar tersebut diberikan atas sumbangsihnya membangun kerja sama riset dan teknologi kedua negara.(InfoPublik)