Ikuti Tren Pendidikan di Dunia


Pengamat Pendidikan Sarankan Indonesia Ikuti Tren Pendidikan di Dunia

SEBARIN.INFO - Jakarta,  - Pengamat Pendidikan dari Eduspec Indonesia Indra Charismiadji menyarankan agar Indonesia mengikuti tren sistem pendidikan di dunia, yaitu sistem computer sains.

Menurutnya, dengan menerapkan sistem computer sains atau yang disebut coding dan system programming, diharapkan keterampilan peserta didik dapat tumbuh.

"Di sini anak-anak diajarkan untuk belajar keterampilan abad 21 yaitu berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif yang selama ini dengan mata pelajaran yang sudah ada seperti Matematika, IPA dan lainnya sulit untuk ditumbuhkan," tutur Indra dalam Diskusi Kelompok Terpumpun bertema Pembelajaran Coding Dalam Menumbuhkan Kecakapan Abad 21 dan Computational Thinking, di Aula Gedung A Kemendikbud Senayan Jakarta, Rabu (28/3).

Indra menilai, meski kurikulum 2013 (K13) menganjurkan agar peserta didik belajar soal berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif namun sistem pengajaran di kelas tidak ada perubahan.

"Guru dari dulu ngajarnya 1+1 =2, dulu sampai sekarang ngajarnya gitu-gitu saja. Gimana menumbuhkan kreatifnya, gimana numbuh kolaboratifnya," tegas Indra.

Indra menyebut, Indonesia tidak boleh tertinggal dari negara lain. Munculnya tren pendidikan baru seperti computer sains, programming, dan menciptakan aplikasi sebaiknya diikuti oleh Indonesia.

"Hari ini, kami diminta Kemendikbud untuk mencoba menjelaskan suatu sistem pendidikan yang sedang menjadi tren yaitu STEM dan computer science. Anak belajar berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif yang selama ini untuk mata pelajaran tersebut sulit dikembangkan," jelasnya.

Sulit karena metode pembelajaran dari dahulu tidak berubah. Sekarang kata dia, di dunia muncul computer science yang belajarnya sudah menggunakan komputer dan setiap anak berkreasi untuk membuat aplikasi masing-masing.

"Kini kita bawa pakar dari luar negeri untuk coba belajar lebih jauh apa yang disebut STEAM dan coading. Ini akan kita didiskusikan bersama. Bisa tidak diterapkan di Indonesia dan bagaimana membawa anak-anak Indonesia bersaing ke dunia Internasional. Jika kita tidak melaksanakan ini bagaimana anak-anak kita bersaing dengan negara lain yang sudah mendapat pelajaran dari kecil," ungkapnya.

Menurut Indra, untuk memulai sesuatu yang baru agak sulit di Kemendikbud karena butuh kajian. "Makanya kami bawa program ini supaya Kemendikbud melihat bahwa di negara lain sudah melakukan program ini, Indonesia yang belum, apakah mau selalau tertinggal," kata Indra.

Lebih lanjut menurutnya, pada tahapan awal harus berani mengambil keputusan, ini sesuatu yang baru yang ada positif dan negatif. "Kalau kita melihat semua negara sudah mengarah ke sini kan bisa pilot product dahulu di tingkat SMP dan SMA/SMK," ujarnya.

Kurikulum yang dibuat seperti di Amerika Serikat dimulai dari kelas satu sampai 12, bentuknya macam-macam, ada yang bentuknya mata pelajaran dan lainnya. Tapi di Finlandia bentuknya e-learning, di Australia menggantikan sejarah dan geografi menjadi computer science.

"Mudah-mudahan setelah pertemuan hari ini ada langkah positif dari pemerintah untuk tujuan mencerdaskan bangsa ke arah sana. Karena Presiden Jokowi mengatakan computer scince sangat penting. Teman-teman di Kemenag sudah memasukkan coding dalam ekstrakurikuler mereka meskipun belum resmi," katanya.(InfoPublik)