Termal Solusi Penanganan Sampah


Teknologi Termal Solusi Penanganan Sampah Secara Cepat dan Ramah Lingkungan

SEBARIN.INFO - Jakarta,  - Untuk mempercepat penyelesaian permasalahan  sampah di kota besar, pemerintah memasukan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dalam Perpres No. 58/2017 tentang Proyek Infrastruktur Strategis Nasional (PSN), selain proyek-proyek besar lainnya.

Sejalan dengan Perpres tersebut, maka Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai lembaga pemerintah yang memiliki tugas dan fungsi dalam mengkaji dan menerapkan teknologi, melakukan pembangunan Pilot Project Pengolahan Sampah Proses Termal (PLTSa) di Bantar Gebang dengan kapasitas 50 ton per hari, bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta.

Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT Rudi Nugroho menjelaskan, bahwa pemilihan teknologi termal dilakukan oleh BPPT berdasarkan kriteria Best Available Technology Meet Actual Need (BATMAN), yaitu teknologi terbaik atau proven yang banyak digunakan di dunia, cocok untuk jenis dan kondisi sampah di Indonesia, ramah lingkungan serta memiliki potensi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi.

“Plilot Project Pengolahan Sampah Proses Termal (PLTSa) Bantar Gebang ini sebagian besar peralatan merupakan produksi dalam negeri. PLTSa terdiri dari empat peralatan utama yaitu bunker terbuat dari concrete yang dilengkapi dengan platform dan crane, ruang bakar dengan reciprocating grate yang di desain dapat membakar sampah dengan suhu di atas 950 derajat Celsius, sehingga meminimalisir munculnya gas buang yang mencemari lingkungan.

Lebih lanjut dijelaskan, panas yang yang terbawa pada gas buang hasil pembakaran sampah, digunakan untuk mengkonversi air dalam boiler menjadi steam di dalam boiler. "Steam yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin untuk menghasilkan listrik,” papar Rudi saat acara Groundbreaking Pembangunan Pilot Project Pengolahan Sampah secara Termal di Bantar Gebang, Rabu (21/3).

Disebutkan, pilot project PLTSa ini akan menggunakan sampah dari TPA Bantar Gebang dengan desain nilai kalori (LHV) yang ditetapkan sebesar 1500 kkal/kg, kapasitas sebesar 50 ton sampah per hari, dan mampu menghasilkan listrik sekitar 400 Kw. Produksi listrik ditargetkan minimal dapat mencukupi kebutuhan internal peralatan PLTSa. Emisi gas buang yang dihasilkan juga telah ditetapkan memenuhi Baku Mutu Emisi dalam Permen LHK No. 70/2016.

“Desain Pilot Project PLTSa ini sangat kompak, indah dan tertutup rapi yang akan digunakan sebagai pusat studi sekaligus wisata edukasi pengolahan sampah. Semoga dapat menjadi percontohan serta pilihan teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan, guna menyelesaikan permasalahan sampah kota-kota besar di tanah air,” pungkasnya.

Perlu diketahui, bahwa di Indonesia, umumnya pemrosesan akhir sampah masih menggunakan Tempat Pemrosesan Akhir sistem Landfill atau penimbunan. Teknologi Landfill ini memerlukan waktu proses yang lama, lahan yang luas, dan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.

Potensi pencemaran dari Landfill berupa air lindi dan emisi gas-gas berbahaya bagi lingkungan harus dipantau dan harus ditangani. Pemantauan dan penanganan potensi dari Landfill ini juga memerlukan biaya yang tidak sedikit karena berlangsung dalam waktu yang lama.

Kota-kota besar di Indonesia, khususnya DKI Jakarta dengan timbunan sampai mencapai 7.000 ton per hari, memerlukan solusi penanganan sampah yang dapat memusnahkan sampah secara cepat, signifikan dan ramah lingkungan, yaitu dengan proses termal.(InfoPublik)

0 Response to "Termal Solusi Penanganan Sampah"

Post a Comment