15 Danau Prioritas Pariwisata



SEBARIN.INFO, Jakarta,-Pemerintah memutuskan akan menjadikan sedikitnya 15 danau prioritas yang akan dikembangkan menjadi destinasi pariwisata, Kementerian Pariwisata pun langsung berkolaborasi dengan sejumlah Kementerian guna mewujudkan hal ini.

Tercatat 15 danau prioritas itu antara lain ada Toba, Sentarum, Tempe, Tondano, Lomboto, Sentani, Matano, Poso, Kaskade, Batur, Rawa Pening, Rawa Danau, Kerinci, Singkarak, dan Maninjau.

Bertempat di Dafam Teraskita Jakarta, Rabu (17/7), diselenggarakan untuk pertama kalinya diskusi panel tentang pengembangan wisata danau-danau di Indonesia hasil kolaborasi kedua antara Kemenpar bersama Forum Wartawan Kementerian Pariwisata (Forwapar) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kemenko Kemaritiman, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Sebagai kolaborator utama di acara ini, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Kementerian Pariwisata, Dadang Rizki Ratman yang juga memberi sambutan pembuka, mengungkapkan sebagai referensi Danau Toba yang merupakan kaldera raksasa di dunia dan termasuk salah satu yang diusulkan pemerintah sebagai UNESCO Geopark baru dikenal sebagai tempat wisata tapi oleh masyarakat sekitar masih dimanfaatkan secara liar tanpa memperhatikan lingkungan.

"Saat ini di Danau Toba sedang dirintis nomadic tourism. Tidak perlu bangun hotel yang mungkin saja memakan banyak biaya dan juga polusi, tapi pengembangan wisata bisa mengarah ke glamping dan karavan, selain lebih instagramable, juga lebih ramah lingkungan", katanya.

Nur Hygiawiati Rahayu yang mewakili Deputi Kemaritiman Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas mengungkapkan bahwa Indonesia kaya dengan alam dan ada lebih dari 800 danau yang tersebar luas mulai dari ujung Sumatra hingga Papua.

"Pemanfaatan danau sangat penting dan 15 di antaranya terbilang perlu dikembangkan karena juga ikut menjadi salah satu penyedia air tawar untuk lingkungan setempat. Pada tahun 2045 diperkirakan danau-danau di Pulau Jawa akan menjadi solusi suplai air tawar terbaik untuk sekitarnya", kata Rahayu dalam paparannya.

Hadir pula Prof Winarni D Monoarfa, Staf ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah KLHK.

"Menurut saya masalah yang ada pada danau-danau di Indonesia tidak jauh-jauh dari Eutrofikasi atau tumbunhnya secara liar eceng gondok di permukaan danau dan juga pencemaran kegiatan perikanan lewat penangkapan yang tidak kalah liar", ungkap Winarni.

Lebih jauh Winarni memaparkan bahwa jika danau disentuh aspek wisata, akan ada banyak manfaat untuk masyarakat sekitar.

Menurut Winarni, saat ini Kementerian Lingkungan Hidup sudah mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan danau dari kerusakan lebih lanjut, mulai dari keramba apung untuk perikanan hingga pemanfaatan eceng gondok sebagai sumber biogas.

Panelis terakhir yang hadir adalah Naswardi, Kabid Danau Situ dan Embung Direktorat Bendungan Ditjen Sumber Daya Air PUPR yang mengungkapkan bahwa badan danau sebagai wilayah sempadan harus dijaga dari aktivitas yang mengganggu lingkungan sekitar.

"Salah satunya di Rawa Pening telah terjadi pengangkatan tanah yang dijadikan sebagai lahan pertanian. Padahal area tersebut menjadi tempat penyimpanan air, sekarang tinggal 3 meter kedalamannya padahal dulu 15 meter di Rawa Pening, akibat sedimentasi, harapannya dengan dijadikan destinasi pariwisata, keberadaan dananu bisa lebih diperhatikan dan banyak memberi manfaat dengan sama-sama menjaganya", jelasnya. (InfoPublik.id)