Ada Kelenteng Melayu Tionghoa di Pulau Rangsang



SEBARIN.INFO, Selatpanjang, - Kalau biasanya, kelenteng itu didiami dewa umat Konghucu, kelenteng yang satu ini tidak demikian. Kelenteng ini justru dihuni seorang tokoh melayu islam. Namanya, Datuk Ladang Kecil. Maka jadilah kelenteng ini bernama Kelenteng Datuk Ladang Kecil. Unik bukan?

Kelenteng ini berada di Dusun Ladang Kecil, Desa Bungur, Kecamatan Rangsang Pesisir. Ia berdiri persis di tepi Selat Malaka. Dari bentuknya, kelenteng ini memang berbeda dari kelenteng pada umumnya. Jika di bagian atap kelenteng biasanya ada patung naga, di kelenteng ini tidak ada. Yang ada justru bulan dan bintang seperti bagian atas kubah masjid atau surau. Lambang bulan  dan bintang juga muncul di pintu pagar kelenteng.

Warna catnya pun tidak didominasi warna merah selayaknya kelenteng, melainkan perpaduan antara warna merah, kuning, dan hijau. Namun demikian, ornamen-ornamen ukiran khas Tionghoa masih ada di beberapa sisi.

Kelenteng ini tidak besar. Altar doa hanya sejengkal dari pintu masuk. Ruang kosong di kanan dan kiri altar hanya cukup untuk lalu-lalang satu orang. Terbilang sempit. Di pangkal altar itulah duduk sebuah patung. Rupanya sangat berbeda dengan patung dewa yang biasanya ada di kelenteng-kelenteng di Meranti. Tingginya hanya sekitar 30 sentimeter. Dalam keadaan duduk sedang memegang tongkat di tangan kanan dan mangkuk emas di tangan kiri. Ada songkok atau kopiah di kepalanya dan kain di bagian bawah.

Di belakang patung itu terdapat sebuah papan bertuliskan arab melayu: Datuk Ladang Kecil Rangsang. Diikuti angka 18-12-1975 lalu beberapa baris huruf kanji atau cina. Amo, 69, pelayan Datuk Ladang Kecil yang bertugas menjaga kelenteng tersebut mengaku tidak tahu pasti sejarah awal Datuk Ladang Kecil hingga disembah.

"Sejak saya kecil sudah ada. Dulu letaknya di laut," kisahnya.

Seiring ganasnya hantaman ombak Selat Malaka hingga mengakibatkan abrasi parah, warga sekitar memindahkan rumah penyembahan Datuk Ladang Kecil lebih jauh ke daratan.

"Kalau posisi dan bentuk bangunan itu Datuk yang minta. Kami tidak bisa suka-suka sendiri. Termasuk bulan bintang, itu Datuk yang suruh," jelas Amo. (23/12/2018)

Menurut penuturan Amo, Datuk Ladang Kecil dipercaya sebagai seorang wanita bersuku melayu dan beragama Islam. Ia memiliki kedudukan tinggi di mata masyarakat hingga bergelar datuk sebagaimana dalam budaya melayu.

"Datuk ini memang orang Islam. Makanya tak boleh ada babi di kelenteng," sebut Acu.

Selain babi, Datuk Ladang Kecil juga tak menghendaki arak. Ia melarang wanita haid dan orang bersenjata masuk. Ia juga tak mau membantu orang yang datang hanya untuk meminta nomor (togel).

Kelenteng ini ramai pengunjung ketika bulan September. Saat itulah digelar perayaan hari ulang tahun Datuk Ladang Kecil. Masyarakat etnis Tionghoa berdatangan. Tidak hanya dari Selatpanjang, tetapi juga dari Pekanbaru dan Batam. (MC Meranti/Humas/Na/InfoPublik.id)