Empat Upaya PUPR Antisipasi Kekeringan



SEBARIN.INFO, Jakarta, - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan empat upaya antisipasi dampak kekeringan yang mengancam lahan pertanian diberbagai wilayah pada saat musim kemarau panjang saat ini.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Hari Suprayogi mengatakan, lahan pertanian yang terdampak kekurangan air pada musim kemarau pada umumnya adalah sawah tadah hujan dan sawah yang mengandalkan irigasi teknis dari bendung debit air sungai. Oleh karena itu, pihaknya pertama akan melakukan pemantauan terhadap kondisi 16 waduk utama tersebut, yaitu Jatiluhur, Cirata, Saguling, Kedungombo, Batutegi, Wonogiri, Wadaslintang, Sutami, Bili-bili, Wonorejo, Cacaban, Kalola, Solorejo, Way Rarem, Batu Bulan, dan Ponre-ponre.

“Dari 16 waduk utama dengan kapasitas minimal 50 juta meter kubik, 10 waduk dalam kondisi di bawah rencana dan 6 waduk lainnya dalam kondisi normal. Waduk dengan kondisi di bawah rencana akan mengalami penyesuaian pola tanam yang pengaturannya di tentukan oleh perkumpulan petani pengguna air atau P3A,” ujar Hari Suprayogi dalam jumpa pers “Evaluasi Tengah Tahun TA 2019 Ditjen SDA dan Kesiapan Infrastruktur SDA Menghadapi Kekeringan” di Media Center Kementerian PUPR, Jumat (12/7).

Hingga akhir Juni 2019 volume ketersediaan air dari 16 waduk utama tersebut sebesar 3.858,25 juta meter kubik dari tampungan efektif sebesar 5.931,62 juta meter kubik. Luas area yang bisa dilayani dari ke-16 bendungan tersebut adalah 403.413 hektare dari total 573.367 hektare. Sementara 75 waduk lainnya dengan skala kecil sampai menengah kondisinya 10 normal, 58 di bawah rencana, dan 7 kering.

Kedua, Kementerian PUPR dalam menghadapi musim kering tahun ini adalah dengan menyiapkan pompa sentrifugal berkapasitas 16 liter per detik. Pompa yang disiapkan mencapai 1.000 unit yang tersebar di 34 provinsi.

Ketiga, Kementerian PUPR juga membangun sumur bor sebanyak dua titik di setiap balai besar dan balai wilayah sungai di daerah. Pembangunan itu berlandaskan pada pengkajian potensi sumber air di sekitar.

"Mereduksi kekeringan ekstrem, Kami siapkan lima titik pengeboran air tanah untuk setiap balai di mana kita memiliki 34 balai," katanya.

Terakhir adalah menggunakan mobil tangki air untuk mengantarkan pasokan air kepada penduduk yang terdampak kekeringan. Pengerahan kendaraan khusus bagi daerah-daerah yang terdampak kekeringan yang parah.

"Distribusi menggunakan mobil tangki air untuk daerah-daerah yang kritis air,” pungkasnya.

Berdasarkan data, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika puncak musim kering diperkirakan berlangsung pada Agustus 2019 dengan cakupan 52,9 persen wilayah Indonesia terpapar musim kekeringan. (InfoPublik.id)