Garap Infrastruktur Pariwisata Prioritas



SEBARIN.INFO, Semarang, - Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat, Sudirman mengatakan, infrastruktur yang baik, performa sektor pariwisata akan meningkat, sehingga masyarakat di sekitarnya merasakan langsung dampaknya.

"Contohnya seperti, kemudahan akses transportasi yang secara langsung akan turut mendorong penambahan pembukaan penginapan, tur wisata, dan pedagang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)," katanya dalam Forum Tematik Bakohumas, bertema ”Dukungan Infrastruktur Dalam Pengembangan Sektor Pariwisata Indonesia” yang digelar di Hotel Novotel Semarang, Rabu (24/7/2019).

Ia menjelaskan, sektor pariwisata merupakan salah satu fokus pemerintah di Era Kabinet Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Hal ini berkaitan dengan dampak berganda yang muncul dari aktivitas pariwisata, baik dalam hal penciptaan lapangan kerja, peluang beragam jenis usaha, hingga peningkatkan potensi investasi daerah.

Di sinilah, kata dia, peran Kementerian PUPR yang dalam konsep pengembangan wilayah berfokus pada 35 Wilayah Pengembangan Strategis (WPS), tujuannya untuk meningkatkan daya saing dan mengurangi disparitas antarwilayah. "Konsep tersebut berupaya memaksimalkan sumber daya dan potensi yang ada di suatu wilayah untuk dikembangkan secara terpadu, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan pembangunannya,”imbuhnya.

Dirinya berharap, rangkaian kegiatan Forum Tematik Bakohumas mampu memperkaya wawasan, khususnya dari sudut pandang pembangunan infrastruktur. Sehingga memantik gagasan-gagasan baru untuk mempromosikan pariwisata nasional ke khalayak luas.

"Secara tidak langsung kita bersama juga berkontribusi terhadap pencapaian target kunjungan wisatawan 2019 yang telah ditetapkan pemerintah,"lanjutnya.

Bank Indonesia menyatakan pariwisata sangat efektif untuk mendongkrak devisa Indonesia. Target perolehan devisa tahun ini pun meningkat, dari Rp2,3 triliun pada 2018 lalu, menjadi Rp2,8 triliun pada 2019.

Keseriusan pemerintah untuk memajukan pariwisata berbuah manis. Bila dibandingkan dengan pertumbuhan kedatangan turis asing di pasar regional dan global, angka di tingkat nasional tergolong sangat tinggi, yaitu 25,68%, sementara di ASEAN pertumbuhannya 7%, dan di tingkat global 6%.

Indeks daya saing pariwisata nasional juga meningkat secara konsisten. Terakhir, Indonesia naik 8 peringkat dari posisi ke-50 pada 2015, ke posisi 42 pada 2017.

Capaian-capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan sektor lain untuk membangun destinasi wisata kelas dunia. Salah satu yang kerap ditekankan oleh Presiden Joko Widodo adalah dukungan infrastruktur dan aksesibilitas.

Untuk itu, secara khusus Presiden menginstruksikan kepada Kementerian PUPR untuk konsentrasi menggarap infrastruktur di empat destinasi pariwisata prioritas, yakni Mandalika, Danau Toba, Labuan Bajo dan Borobudur.

Sambutan tertulis Ketua Umum Bakohumas (Plt Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Rosarita Niken Widiastuti) yang disampaikan Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Komunikasi dan Media Massa, Gun Gun Siswadi antara lain menyebut, gencarnya pembangunan infrastruktur selama lima tahun terakhir memberi harapan baru bagi perkembangan pariwisata di Indonesia.

Di dalam berbagai kesempatan, sebut Niken, Presiden Joko Widodo selalu mengingatkan agar proyek infrastruktur disambungkan dengan kawasan wisata di setiap daerah. Hal itu dimaksudkan agar sektor pariwisata bisa semakin mendorong kesejahteraan masyarakat secara lebih merata.

Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol, pelabuhan, dan bandara diharapkan dapat menyambungkan pusat pertumbuhan ekonomi dengan kawasan wisata sehingga membuat daerah menjadi lebih cepat berkembang. “Untuk itu Pemerintah Daerah harus memahami dengan baik karakteristik dan potensi wisata di wilayahnya masing-masing agar dapat bersinergi dengan Kementerian PUPR dan stakeholder terkait,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, infrastruktur bukan hanya memudahkan aktivitas orang per orang, tetapi juga penting buat sektor industri pariwisata, karena, perpindahan orang antar destinasi menjadi sangat mudah dan cepat. Di jalur laut Selat Sunda misalnya. Jarak tempuh antara Pelabuhan Merak Banten dan Bakauheni Lampung menjadi sangat dekat. Dulu, rute laut ini ditempuh dalam waktu 2,5 hingga 3 jam. “Namun, ketika Dermaga Eksekutif di-groundbreaking perjalanan menjadi hanya 45-60 menit.

"Infrastruktur dan pariwisata adalah dua sisi yang saling mendukung dan melengkapi, contoh nyata yang dapat kita lihat adanya destinasi prioritas yang termasuk dalam 10 Bali Baru, Danau Toba Sumatra Utara. Ketika infrastruktur Bandara Silangit dibangun, kapasitas terminalnya diperbesar, runway diperpanjang dan diperlebar, apron untuk parkir pesawat diperlebar, sehingga akses melalui udara ke Danau Toba semakin terbuka lebar," terang dia.

Tak hanya itu, lanjut Rosarita, jalur tol dari Kuala Namu-Tebing Tinggi juga sudah dibangun. Menyusul Tebing Tinggi-Pematang Siantar, dan pelebaran akses dari Pematang SiantarParapat. "Rencananya, inner ring road, outer ring road juga akan dikembangkan di Danau Toba, sehingga membuka kesempatan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik,"tuturnya.

Rosarita menyebutkan, meskipun progres pembangunan infrastruktur belum mencapai 100%, menurut data Kementerian Pariwisata, pertumbuhan di Danau Toba sudah signifikan. Delapan Kabupaten di sekeliling Danau Toba bertumbuh PAD-nya hingga 80%, sejak dibangun infrastruktur dan menjadi akses pariwisata ke Danau Toba.

Cerita yang sama juga terjadi di Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Sejak Tanjung Kelayang ditetapkan sebagai Destinasi Prioritas atau 10 Bali Baru dan dibangun bandaranya, maka statusnya dinaikkan menjadi bandara internasional. Hasilnya, infrastruktur perhubungan di Belitung jadi makin kuat dan tumbuh signifikan. Diperkirakan pertumbuhan PAD-nya, lebih dari 300% dari sebelumnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, begitu pula yang terjadi di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Industri di Pulau Komodo bertumbuh pesat, sampai-sampai PAD yang tahun 2017 hanya Rp70 miliar, naik hampir 100% di tahun 2018 yang tembus Rp135 miliar.

Melihat berbagai keberhasilan pembangunan infrastrukur yang berdampak kepada pertumbuhan ekonomi daerah, pemerintah saat ini tengah giat menyiapkan infrastruktur khususnya di 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) atau “10 Bali baru”.

"Sepuluh KSPN tersebut yakni Mandalika di NTB, Pulau Morotai di Maluku Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Danau Toba di Sumatera Utara, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Borobudur di Jawa Tengah, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Tanjung Lesung di Banten, Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur dan Labuan Bajo di NTT,"paparnya. (Lukas S/InfoPublik.id)