Hadapi Kekeringan, BPPT Siap Operasi Modifikasi Cuaca



SEBARIN.INFO, Jakarta, - Memasuki musim kemarau, banyak wilayah berpotensi terancam kekeringan. Hal ini dapat menimbulkan dampak buruk terhadap areal persawahan, yang banyak tersebar di Jawa, Bali, NTT, dan NTB.

Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan langkah preventif. Solusi berupa pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca (TMC), siap dilaksanakan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

"Jika kekeringan melanda di banyak wilayah pertanian khususnya tanaman padi, maka dikhawatirkan akan terjadi gagal panen. Untuk itu, kami di BPPT siap untuk melakukan Operasi Hujan buatan atau TMC," jelas Kepala BPPT, Hammam Riza, seperti dikutip dalam rilis BPPT, Jakarta, Selasa (23/7).

Hammam, usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) terkait antisipasi bencana kekeringan, di Kantor BNPB, Jakarta, Senin (22/7), mengatakan, pemanfaatan TMC untuk mengatasi kekeringan ini, merupakan tindaklanjut dari perintah Presiden RI, dan banyak kepala daerah. Teknologi inipun dianggap mampu menjadi solusi mengatasi kekeringan yang sudah mulai melanda beberapa wilayah di Indonesia. "Teknologi modifikasi cuaca atau banyak disebut hujan buatan, inipun akan dilakukan oleh BPPT yang berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG," ujarnya.

Lebih lanjut Hammam mengatakan, bahwa Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, juga telah berkoordinasi dengan BPPT, yakni sebagai bagian dari upaya menurunkan hujan bagi desa yang berpotensi terkena kekeringan.

“Menteri Desa terkait isu kekeringan pun sangat menaruh perhatian. Karena petani di desa-desa akan merasakan dampaknya, dan berisiko mengalami gagal panen," jelasnya.

Untuk itu, tutur Hammam, teknologi modifikasi cuaca penting untuk diterapkan guna mengatasi kekeringan. Dengan adanya hujan buatan nanti, diharapkan menjadi solusi agar wilayah-wilayah, khususnya yang menjadi lumbung padi, dapat  terhindar dari kekeringan. "Kami tentu di BPPT akan berupaya optimal, untuk membuat hujan buatan dan mengatasi kekeringan, sehingga risiko gagal panen dapat dihindarkan," tegas Hammam.

Perlu diketahui, bahwa opsi menerapkan teknologi modifikasi cuaca untuk menciptakan hujan buatan sebagai solusi mengatasi kekeringan, membutuhkan prediksi iklim dan cuaca yang akurat.

Diakui Hammam hujan buatan akan lebih efektif jika kondisi atmosfer ideal, yakni adanya awan potensial. Pada masa menjelang puncak musim kemarau, potensi keberadaan awan-awan itupun kecil.

"Pada Rakor tersebut menurut data BMKG, kondisi cuaca saat ini tidak memungkinkan adanya potensi awan untuk membuat menjadi hujan di wilayah Jawa, Bali hingga NTT secara keseluruhan. Namun secara lokal, ada kemungkinan potensi awan yang disebut intraseasonal monsoon, yang berpotensi menjadi hujan," paparnya.

Terkait hal tersebut Hammam menyebut, bahwa dalam Rakor diputuskan untuk mendirikan Posko Utama pelaksanaan Operasi TMC di Lanud Halim Perdanakusumah, dan posko lainnya di Kupang, NTT.

"Hal ini untuk mengantisipasi adanya potensi awan lokal tersebut, yang akan langsung disemai dengan operasi hujan buatan. Posko di Halim akan siaga pesawat CN295 dan posko di Kupang NTT dengan pesawat casa212-200. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga bulan Oktober," terangnya.

Perlu diketahui, bahwa TMC yang dilakukan oleh BPPT melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC), adalah sebuah pemanfaatan teknologi yang berupaya  inisiasi ke dalam awan. Agar proses yang terjadi di awan lebih cepat, dibandingkan dengan proses secara alami.

Kepala BBTMC BPPT, Tri Handoko Seto menguraikan, bahwa hujan buatan tidak dapat diartikan secara harfiah sebagai pekerjaan membuat hujan. Karena teknologi ini  berupaya untuk meningkatkan dan mempercepat jatuhnya hujan.

"Hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca ini adalah, dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air), sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan," paparnya.

Selain itu, Operasi TMC ini tentunya juga tidak lepas dari ketersediaan yang diberikan oleh alam. Artinya jika awannya banyak, kita juga akan dapat  menginkubasi lebih banyak dan otomatis akan menghasilkan hujan yang lebih banyak juga, begitupun sebaliknya.

Kemudian terkait dengan kesiapan BPPT dalam melakukan operasi TMC, Seto menyebut pihaknya perlu melakukan beberapa persiapan terlebih dahulu seperti koordinasi dan hal teknis lainnya.

Persiapan teknis ini, seperti memodifikasi pesawat untuk dapat digunakan dalam melaksanakan Operasi TMC. Setelah itu, adalah  mendatangkan pesawat ke lokasi,  menyiapkan sumberdaya manusia, serta menyiapakan bahan semai.

"Untuk melakukan Operasi TMC pun butuh pesawat  yang biasanya dimodifikasi khusus untuk operasi TMC, guna mengangkut kru serta bahan semai, berupa garam halus yang nantinya akan disemai di dalam awan," paparnya.

Terkait pemanfaatan TMC atau hujan buatan disebutkan olehnya, saat ini dengan semakin meningkatnya frekuensi kejadian bencana hidrometeorologi di Indonesia, aktivitas teknologi modifikasi cuaca banyak dimanfaatkan untuk tujuan mitigasi bencana yang disebabkan oleh faktor iklim dan cuaca.

“Seperti untuk mengantisipasi kekeringan, bencana banjir  serta bencana kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan atau Karhutla. Selain itu, Teknologi Modifikasi Cuaca juga sudah dipercaya dalam pengamanan proyek strategis nasional dan kegiatan penting kenegaraan yang bersifat nasional dan internasional baik untuk mengurangi gangguan kabut asap maupun menjaga agar lokasi kegiatan tidak terkendala oleh cuaca ekstrem,” pungkasnya.

Sebagai informasi event kenegaraan yang turut melibatkan dukungan Operasi TMC tersebut diantaranya sebagai berikut;  (1) Sea Games pada tahun 2011 di Provinsi Sumatera Selatan dalam pengamanan mengurangi curah hujan; (2) Pekan Olahraga Nasional (PON) di Riau pada Tahun 2013 yang terganggu kabut asap maupun curah hujan di areal lapangan olah raga; (3) Islamic Solidarity Games di Sumatera Selatan Tahun 2013;(4)Redistribusi curah hujan di wilayah DKI pada tahun 2013 dan 2014; (5) Pengurangan curah hujan di area proyek Pembangunan Jalan Tol Samarinda-Balikpapan Tahun 2018;(6) Kegiatan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang (7) Acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Bali serta kegiataan kenegaraan lainnya seperti peringatan HUT Kemerdekaan RI di Istana Negara. (InfoPublik.id)