Hujan Buatan Efektif Dilakukan April-Mei


SEBARIN.INFO, Jakarta, – Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza tidak menampik teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau lebih dikenal dengan hujan buatan, cukup sulit dilakukan, sebab wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat dan Timur sudah memasuki puncak musim kemarau.

“Praktis, kemunculan awan memang sangat jarang,” kata Hammam seperti dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (16/7).

Hanya saja, kata Hammam, tidak ada salahnya dicoba. “Selama musim kemarau, ada kalanya dinamika atmosfir memungkinkan terbentuknya awan,” terangnya.

Hanya saja, kata Hammam, tidak ada salahnya dicoba. "Selama musim kemarau, ada kalanya dinamika atmosfir memungkinkan terbentuknya awan," terangnya. 

Meski, kemungkinan untuk berhasil rendah. Menurut dia, waktu yang tepat untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca adalah saat masa transisi. Antara bulan April hingga Mei.

Secara administratif, mekanisme yang tepat untuk menerapkan modifikasi cuaca pada situasi saat ini diikuti dengan penetapan status siaga darurat bencana kekeringan. "Sehingga terbuka peluang bagi BPPT untuk bertindak atas azas pemanfaatan peluang hujan sekecil apapun potensi tersedia," katanya.

Dengan mekanisme seperti itu, pemerintah daerah dapat menerbitkan statemen siaga bencana kekeringan. Untuk kemudian, pemerintah pusat melalui BNPB dan Kementerian Pertanian dapat menindaklanjuti upaya penanggulangannya. (InfoPublik.id)