Mendikbud: Pendidikan di Indonesia Diharapkan Berstandar Internasional



SEBARIN.INFO, Jakarta, - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menyampaikan pentingnya pendidikan di Indonesia harus berstandar, salah satu yang diharapkan adalah  berstandar internasional. Dengan pendidikan yang berstandar internasional, kualitas, pendidikan di Indoensia dapat bersaing di level dunia.

Kemendikbud secara serius memperbaiki proses pembelajaran yang sesuai dengan standar Programme for International Student Assessment (PISA). PISA merupakan sistem ujian yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), untuk mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia.

“Pendidikan kita, harus berstandar, salah satu standar yang kita harapkan standar internasional. Memang standar internasional itu, sebetulnya tidak ada, tapi ada lembaga-lembaga internasional yang melakukan standarisasi. Kemudian, lembaga dan standarisasinya itu, mendapar pengakuan dari negara lain. Jadi untuk mendapatkan rekognisi,” kata Muhadjir dalam pembukaan Seminar on PISA: Assessing 21st Century Life Skills di Gedung Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Senin (8/7).

Oleh karena itu, kata Mendikbud, pihaknya ingin menetapkan standar internasional, tidak mungkin tanpa membuat keputusan lembaga mana yang akan dijadikan partner. “Kita sudah putuskan, bahwa PISA kita dianggap cukup kredibel. Maka kita gunakan PISA untuk standarisasi internasional kita,” paparnya.

Karena itu, ujian nasional mestinya nanti harus menggunakan standar internsional, dan itu berarti memakai standar PISA. Sedangkan ujian sekolah berstandar internasional, harus punya standar sendiri yaitu yang dikeluarkan oleh BNSP (Badan Nasional Serifikasi Profesi).

Ia mengungkapkan, bahwa selama ini, capaian pendidikan Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD, seperti Singapura dan Vietnam. Karena itu, pihaknya terus mendorong agar mutu pendidikan Indonesia terus berkembang lebih baik, dan berstandar internasional.

“Kita boleh saja mengabaikan standar internasional, tapi resikonya ya kita tidak tahu sebetulnya kita dalam pergaulan dunia,  kita berada di mana, tetapi kalu kita sudah menjatuhkan pilihan, kita bisa tahu,  oh posisi kita di sini,  dalam posisi internasional kita. Itulah manfaat kita berpartner dengan lembaga internasional untuk membangun Indonesia ke depan,” ujar Muhadjir.

Namun demikian, Muhadjir juga mengungkapkan, ada hal-hal yang juga perlu disorot dalam penilaian PISA. Hal itu, kata dia, bahkan telah disampaikannya kepada Direktur OECD Andreas Schleicher secara langsung. Misalnya terkait sample coverage dari satu negara ke negara lainnya.

Menurutnya, harus ada perbedaan pendekatan untuk penarikan kesimpulan terhadap kualitas hasil tes PISA antara negara-negara berpopulasi kecil dan negara-negara yang populasi siswanya besar, misalnya Indonesia dengan Singapura.

“Paling kontras kalau kita bandingkan dengan Singapura, kalau Singapura berada di puncak paling tinggi kita berada hampir di papan paling bawah. Orang Indonesia yang awam, hanya itu saja yang dilihat, pokoknya kita kalah dengan Singapura.  Tidak tahu, bahwa di Singapura jumlah siswanya tidak sampai 2 juta, sementara kita punya 51 juta siswa. Dia tidak peduli, bahwa Singapura punya 5 juta penduduk, kita 263 juta penduduk. Kemudian Singapura negara kota, kita negara kepulauan yang luar biasa. Kemudian, perbedaan kapasitasnya juga luar biasa, baik itu secara spasial maupun struktural. Spasial itu artinya karena wilayah,  struktural itu karena kebijakan,” jelasnya.

“Ini saya pernah menyampaikan, dan alhamdulillah Andreas merespons dengan baik, dan itu akan menjadi dasar  pertimbangan untuk menentukan berikutnya,” ungkap Muhadjir.(InfoPublik.id)