Pemanfaatan Minyak Sawit untuk Green Fuel



SEBARIN.INFO, Jakarta, -  Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan. Kebutuhan BBM 1,3 juta barel per hari dipenuhi dari kilang dalam negeri 910 ribu barel per hari, dan impor 370 barel per hari, serta biodiesel 50 ribu barel per hari. Defisit impor migas sebesar US$13,4 milyar menjadi penyumbang terbesar defisit neraca perdagangan tahun 2018 sebesar US$8,57 milyar.

“Oleh karena itu, harus ada upaya untuk mengurangi impor BBM dengan melakukan diversifikasi BBM dengan sumber energi lain, terutama bahan bakar nabati atau green fuel,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza pada acara Workshop “Pemanfaatan Minyak Sawit untuk Green Fuel” di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (16/7).

Disebutkan, saat ini produksi CPO (Crude Palm Oil) Indonesia sudah mencapai 44 - 46 juta ton dari lahan sawit seluas 14 juta ha. Diprediksi pada tahun 2025 produksi sawit akan mencapai 51,7 juta ton. Sebuah pencapaian yang membanggakan, namun di sisi lain akan mengakibatkan oversupply, apalagi pada tahun 2030 ada ancaman pelarangan produk minyak sawit di Eropa secara total. “Sementara itu, industri kelapa sawit ini, telah mempekerjakan 5,3 juta petani swadaya, dan sebanyak 17 juta orang menggantungkan hidupnya dari sawit,” tuturnya.

Menurut Hammam, salah satu langkah strategis untuk mengurangi impor BBM dan sekaligus antisipasi oversupply CPO, adalah penggunaan CPO untuk Biofuel. “BPPT bersama dengan berbagai stakeholders, termasuk Kementrian ESDM, Kementerian Keuangan (melalui BPDPKS), Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Gaikindo, Aprobi, ITB, dan lain-lain telah mempelopori pengkajian dan penerapan teknologi Biodiesel,” paparnya.

“Dimulai pada awal 2000 an, saat ini kita telah mencapai tahapan B20, dan saat ini sedang dilakukan uji jalan B30. Berdasarkan perhitungan Badan Litbang Kementerian ESDM, B30 akan mengurangi impor solar sebesar 8 - 9 juta kilo liter. Apabila dikalikan dengan Harga Indeks Pasar (HIP) solar sebesar Rp8.900 per liter, maka nilai penghematan impor solar mencapai Rp 70 triliun atau US$6 miliar,” jelasnya.

Solusi teknologi lainnya adalah menggunakan Pure Plant Oil (PPO) berbasis CPO, untuk aplikasi di stationary engine. BPPT bersama PT PLN telah mengembangkan pemanfaatan PPO untuk bahan bakar pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel  (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG). Penggunaan PPO untuk PLTD terbukti sangat baik dan siap menggantikan solar sebanyak 50 persen.

Opsi yang lain, adalah pengolahan CPO menjadi bahan bakar minyak, baik melalui coprocessing bersama minyak bumi mentah atau 100% CPO dalam pengilangan untuk memproduksi green BBM atau disebut Green Refinery Stand Alone.

“Dengan pengilangan CPO 100%, sebanyak 10 juta ton CPO per tahun dapat diserap dan impor BBM sebanyak 11 juta kL dapat dikurangi. Kemudian, apabila digabung dengan produk co-processing dan biodiesel maka akan terjadi subtitusi pengurangan impor 23 juta kL/ tahun, sehingga defisit neraca perdagangaan luar negeri dapat dikendalikan,” kata Hammam.

Dalam konteks ini, BPPT siap bersinergi dan berkontribusi dalam Flagship Prioritas Riset Nasional (PRT) tentang Bahan Bakar Nabati dari Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit bersama Kemenristekdikti, ITB, Pertamina, LIPI, dan pihak-pihak terkait lainnya. “Selamat kepada ITB dan Pertamina atas capaian ujicoba coprocessing CPO dengan minyak mentah di beberapa kilang milik Pertamina. Selamat dan penghargaan yang tinggi, khususnya kepada Prof. Subagyo Teknik Kimia ITB yang telah bertahun-tahun mengembangkan dengan sabar dan tekun,” imbuhnya.

Ia menambahkan, untuk masa depan BPPT sedang menyiapkan teknologi mengkonversikan biomassa berbasis kelapa sawit (tandan kosong, dahan, batang) menjadi Bio Crude Oil (BCO) yang nantinya dilakukan upgrading dan refinery untuk menghasilkan produk-produk green BBM. Harapannya, BCO bisa lebih murah daripada minyak mentah/Crude Fossil Oil.

BPPT juga konsen, pada pengembangan teknologi mengkonversikan biomassa berbasis kelapa sawit melalui gasifikasi termal. BPPT bekerja sama dengan Gunma University Jepang dan JICA baru saja menyelesaikan pembangunan Biomass Gasification Pilot Plant berkapasitas 2 ton per hari. Melalui teknologi ini, biomassa limbah pabrik kelapa sawit dikonversi menjadi syngas yang dapat diolah menjadi bahan dasar industri kimia seperti methanol maupun untuk bahan bakar seperti Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif dari LPG.

Selain limbah biomassa padat, kata dia,  Pabrik Kelapa Sawit juga menghasilkan limbah cari yang biasa disebut palm oil mill effluent (POME). BPPT bekerjasama dengan PTPN V telah melakukan pembangunan Pilot Project PLT Biogas berbahan baku POME dengan kapasitas 0,7 – 1 MW.

PLT Biogas kapasitas 1 MW berarti dalam satu jam, menghasilkan 1000 kWh, dan jika dikonversikan dengan kebutuhan solar untuk PLTD, maka penghematan setara dengan sekitar 250 liter minyak solar dalam satu jam.

Minimal ada tiga keuntungan dari penerapan teknologi biogas dari POME ini, yaitu: Pengurangan pencemaran lingkungan akibat limbah cair pabrik kelapa sawit, pengurangan emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global, dan pemanfaatan biogas sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. “Hal itu solusi teknologi dari sisi hilir,” paparnya.

Pada sisi hulu, BPPT juga memberikan kontribusi teknologi, seperti teknologi perbanyakan benih unggul kelapa sawit secara in vitro sebagai upaya mendukung produktifitas perkebunan sawit, integrasi sapi sawit untuk mengoptimal sumberdaya yang ada, dan pengembangan pupuk hayati/organic (bio organic fertilizer), dan pupuk mineral. Setelah berhasil menerapkan pupuk Slow Release Fertilizer (SRF) pada tanaman padi dan jagung, dan Controlled Release Fertilizer (CRF) pada bawang merah, BPPT bekerjasama dengan PT Pusri mengembangkan Pupuk CRF untuk kelapa sawit.

Satu potensi peningkatan efisiensi dalam rantai produksi CPO di Pabrik kelapa sawit, adalah metode alternatif ekstraksi buah tanpa menggunakan steam (uap air). Teknologi ini, perlu dieksplorasi lebih lanjut, di mana Asam Lemak Bebas Tinggi masih dapat diberikan nilai tukar yang lebih baik. Konsep Mini and Mobile CPO Mill juga dapat dieksplorasi memanfaatkan kemampuan plant design engineering BPPT. (InfoPublik.id)