Wujud Konkret Toleransi



SEBARIN.INFO, Jakarta, - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengungkapkan kelestarian kawasan Candi Prambanan dan Candi Sewu merupakan wujud konkret toleransi antarumat beragama. Hal tersebut menjadi indikator tingkat peradaban sebuah bangsa yang menjadi inspirasi untuk membangun masa depan Indonesia.

"Ini adalah cerminan dari toleransi, kerukunan, saling menghargai, saling menghormati perbedaan keyakinan. Dan itu, merupakan simbol dari tingkat kebudayaan, tingkat keberadaban, dan keluhuran budaya nenek moyang kita," kata Mendikbud Muhadjir Effendy seperti dikutif dalam rilis Kemendikbud, Jakarta, Senin (22/7).

Mendikbud  pada saat pembukaan Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) Tahun 2019 di Candi Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I.Y.), Minggu (21/7), menyampaikan KBKM diharapkan menjadi media interaksi kaum muda yang inklusif, untuk berkolaborasi dalam menghadirkan solusi atas tantangan pemajuan kebudayaan. Baik di wilayah masing-masing hingga nasional.

Muhadjir berharap, agar para peserta, selain berkompetisi, juga mampu berkolaborasi. Dan membangun jejaring kaum muda pegiat kebudayaan nasional. "Harapan saya, kalian akan punya pengalaman tak terlupakan dengan segala romantika dan suka cita. Bangun jaringan dari candi Prambanan ini, menjadi gerakan yang melahirkan jaringan budaya," ucap Mendikbud.

Rangkaian kegiatan, bertujuan untuk menciptakan ruang inkubator yang mendorong lahirnya berbagai purwarupa (prototype) dan aktivasi inisiatif sosial yang memperkuat upaya pemajuan kebudayaan di berbagai daerah. Berbasis interaksi kreatif antar kaum muda sebagai garda-depan (avant-garde) pemajuan kebudayaan dengan menggunakan pendekatan terpadu di bidang STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts dan Mathematics).

"Idenya itu, membangun ekosistem. Harapannya ke depan interaksi di antara stakeholders akan jalan terus. Dan KBKM ini menjadi platformnya. Ini akan menjadi forum setiap orang. Ini akan bergulir, dan semua orang nantinya dapat terlibat," kata Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid.

Sebagai platform kerja budaya, KBKM memainkan sejumlah peran penting, di antaranya 1) Sebagai ruang inkubator untuk inovasi pemajuan kebudayaan; 2) Sebagai ruang kerja bersama (coworking space) bercorak gotong-royong; 3) Sebagai ruang fasilitasi atas usaha rintisan di bidang pemajuan kebudayaan; dan 4) Sebagai ruang rangsangan inisiatif anak muda di bidang pemajuan kebudayaan.

"Pada akhirnya, kita berharap 561 peserta ini berjejaring. Karena di KBKM ini, mereka melihat apa yang mereka kerjakan, mereka impikan, mereka risaukan juga ada di teman-teman yang lain," ujar Hilmar.

Dan karena diselenggarakan di kemah, Dirjen Hilmar berharap agar ikatan di antara para peserta menjadi semakin kuat. "Kita berharap dari sini muncul tenaga penggerak atau aktivis kebudayaan di tingkat lokal. Dan nanti mereka bisa menjadi mentor di daerahnya masing-masing," ujar Dirjen Kebudayaan. (InfoPublik.id)