Lakukan Mitigasi dan Antisipasi Kekeringan



SEBARIN.INFO, Jakarta, - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono melakukan dua hal ini untuk menangani dampak bencana kekeringan yang menimpa sejumlah wilayah di Indonesia.

"Penanganan bencana kekeringan dilakukan dengan dua langkah mitigasi dan antisipasi, yakni jangka pendek dan jangka panjang," ujar Basuki di Jakarta, Rabu (24/7).

Jangka pendek dengan memantau ketersediaan air pada tampungan air eksisting seperti waduk, embung, danau, dan bendungan. Karena, adanya infrastruktur tersebut dapat meminimalisir dampak bencana kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.

Sebetulnya, pemerintah telah melakukan serangkaian pembangunan infrastruktur

Dalam kurun waktu 2015 hingga 2019 terdapat pembangunan infrastruktur ketahanan air antara lain pembangunan 65 bendungan dan 1.053 embung dalam kurun 2015-2019. Selain itu juga membangun jaringan irigasi seluas 865.393 hektare dan penyediaan air bersih 21.500 liter/detik selama tahun 2015-2018.

"Hingga kini, Indonesia memiliki 231 bendungan besar yang mampu mengairi sawah irigasi sebanyak 11 persen dari total 7 juta hektar lahan irigasi yang di Indonesia," katanya.

Sedangkan, jangka panjang pengelolaan wilayah sungai dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga ke hilir serta kampanye masyarakat water resources management.

"One river, one management harus lebih dimantapkan dengan koordinasi lintas sektor dan komitmen yang berkelanjutan melalui upaya-upaya terpadu dan konsisten,” kata Menteri Basuki.

Pada tahun 2019 ini bencana kekeringan menimpa kawasan perkotaan di 8 provinsi di Indonesia diantaranya Banten, Jawa Timur, NTB, dan NTT dengan jumlah penduduk terdampak 2 juta jiwa. Sedangkan kekeringan kawasan pertanian terjadi di 12 provinsi diantaranya Lampung, Jawa Tengah, Bali, dan Maluku dengan luas area irigasi terdampak sebesar 707 ribu hektare. (InfoPublik.id)